Selasa, 22 November 2011

Opini ( Mahasiswa Tidur)


Mahasiswa Raksasa Tidur?
Nurul Khikmah (NOE)

Sudah lama masyarakat kehilangan rasa untuk percaya terhadap pejabat dan para wakil rakyat. Apalagi kalau bukan karena aksi-aksi klasik mereka yang selalu menguras harta rakyat. Hal ini akan diperparah jika kelak masyarakat juga tak lagi percaya dengan mahasiswa, menyusul sesepuhnya yaitu para petinggi negri yang dulunya juga pernah menjadi mahasiswa. Namun kali ini yang ingin saya kupas bukanlah moral mahasiswa, apalagi moral pejabat yang mungkin tak cukup jika hanya merangkumnya dalam buku setebal 1000 halaman dan sebanyak 10 jilid.
Permasalahan yang akan saya bahas kali ini adalah bagaimana peranan mahasiswa sekarang? Pandangan sebagai kaum yang mempunyai pengetahuan lebih, kaum yang sanggup menjadi sarana perubahan bangsa dan negara, kaum yang mampu mengkritisi para pemimpin. Beban inilah yang selalu membayangi seorang mahasiswa. Semua ini menjadi beban, karena mahasiswa masa kini tak lagi mampu menjalankan fungsinya sebagai kaum intelek muda, baik untuk diri sendiri maupun masyarakat.
Ketika intelektualitas mahasiswa dipertanyakan, apakah mahasiswa hanya bisa terus menjawab ketidakmampuannya untuk mengukir PRESTASI dengan POTENSI’nya. Bahkan untuk  mengaplikasikan apa yang telah ia dapat saja sebagian dari mereka banyak yang tak sanggup. Malah yang nampak dalam setiap aksinya di televisi, justru ototlah yang kerap mereka peragakan. Lalu dimana otak mereka? Mau jadi apa bangsa dan negara ini jika mengharapkan generasi yang hanya bemodalkan otot namun  otak tak berisi.
Selain itu, agen perubahan (agent of change) yang merupakan slogan mereka dari zaman bahuela sampai sekarang dan sering mereka gembor-gemborkan dalam setiap orasinya, tak lagi terdengar di setiap aktivitasnya. Artinya mereka meneriakan perubahan, namun sikapnya sama sekali tidak  mencerminkan sosok yang mendambakan perubahan. Sungguh miris, jika sebutan itu hanya dijadikan wacana tanpa arti, seperti bakpao tanpa isi.
Seharusnya kita para mahasiswa masa kini bisa berkiblat pada kiprah mahasiswa-mahasiswa terdahulu. Seberapa besarnya jasa dan perjuangan Bung Karno dan Bung Hatta, seberapa besarnya peran mahasiswa yang sanggup menumbangkan kediktaktoran pemerintahan Orde Baru dan berhasil mebuka jendela reformasi. Dan masih banyak mahasiswa-mahasuswa tempo dulu yang mempunyai peranan penting bagi perkembangan Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri memang, mahasiswa dengan sikap kritis dan keberaniannya, telah membuat mahasiswa sejak dulu mempunyai fungsi sebagai pilar utama dalam hal kontrol sosial. hal ini dapat dilihat dari tumbangnya para pemimpin yang di nilai tidak mampu mengemban amanah dari rakyatnya. Namun, kekritisan itu dapat di pandang sebuah kebenaran, ketika sanggup memihak pada kebenaran dan kemaslahatan bersama. Tidak dengan anarkisme dan premanisme seperti yang sering dilakukan oleh beberapa mahasiswa sekarang.
Namun tak berhenti sampai disitu, penilaian-penilaian negatif dari beberapa pihak pun terus tertuju pada mahasiswa. Di antaranya sikap materialisme dan konsumerisme yang mewabah dalam diri mereka. Tergila-gilannya dengan produk luar negeri dan semua yang menjadi trend masa kini, mereka bela-belakan untuk memenuhinya. Inilah yang disebut aliran populisme, aliran baru dimana para mahasiswa yang selalu mengikuti trend dan ingin tampil popular-lah yang menjadi pengikutnya. Nuansa hedonis nampak indah menghiasi aliran tersebut.
Semetara, kehidupan bermasyrakatpun sangat minim sekali tercermin, tak banyak mahasiswa yang sanggup mengabdikan diri dan bersosialisasi dengan masyarakat luas. Hanya masih segelintir orang yang  benar-benar layak di sebut sebagai Mahasiswa. Seharusnya kita tau, peran mahasiswa adalah sebagai agent of change, meneruskan tongkat estafet para pendahulu, sanggup menjadi kaum panutan, menjadi manusia yang kritis namun terarah, dan sanggup menjadi makhluk sosial seutuhnya.
Lalu, apakah semua ini sudah kita lakukan? Sudah adakah pada diri kita masing-masing yang mengaku sebagai seorang MAHASISWA ( siswa yang terbesar )? Jika semua itu belum ada, tidak salah memang. Jika Mahasiswa diibaratkan sebagai Raksasa Tidur. Mengaku sebagai orang yang berpendidikan lebih. Namun, tak ada perubahan yang sanggup dicapai. Apalagi mengharapankan sosoknya untuk kembali mengukir sejarah bangsa ini.
Untuk menghilangkan ungkapan itu, bangunlah wahai Mahasiswa!!! dari tidur panjangmu. Perubahan menanti usahamu. Sejarah pun menanti aksimu. Marilah sahabat-sahabat semua, renungkanlah sejenak apa yang sudah kita kerjakan hingga detik ini sebagai Mahasiswa. Sebuah wacana tak ada  artinya ketika   tidak ada tindakan nyata.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review